Mimika Jadi Pelopor Deteksi Dini TBC dengan Teknologi AI Buatan UGM

Kabupaten Mimika menjadi salah satu lokasi penting untuk uji coba teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam mendeteksi dini penyakit tuberkulosis (TBC). Inisiatif inovatif ini merupakan hasil kolaborasi tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dipimpin oleh Antonia Morita Iswari Saktiawati dari Pusat Kedokteran Tropis UGM dan Wahyono dari Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika UGM, penelitian ini berfokus pada pemanfaatan AI untuk membaca hasil rontgen dada. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses skrining TBC, penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil.

Antonia Morita menjelaskan bahwa keterbatasan tenaga medis di daerah pedalaman menjadi salah satu alasan utama pengembangan teknologi ini. Dengan AI, deteksi dini TBC dapat dilakukan lebih cepat hanya dengan memanfaatkan hasil rontgen, tanpa harus menunggu kehadiran dokter spesialis radiologi.

"Kehadiran dokter, apalagi dokter radiologi, sangat terbatas. Akibatnya, proses pembacaan hasil rontgen bisa memakan waktu lama, yang pada akhirnya menunda diagnosis dan pengobatan TBC," ujarnya. Ia berharap teknologi ini dapat mempercepat diagnosis, pengobatan, dan mengurangi penyebaran TBC.

Selain Mimika, Klaten dan Yogyakarta juga menjadi lokasi uji coba. Mimika dipilih karena dianggap memiliki kinerja terbaik dalam penanganan TBC di wilayah Papua Tengah.

Tim peneliti juga telah membuat sebuah situs web yang berisi informasi terbaru mengenai perkembangan penelitian dan wadah komunikasi bagi masyarakat, sebagai bentuk transparansi dan pelibatan publik.

Wahyono menambahkan bahwa AI ini berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan diagnosis akhir. Hasil dari AI tetap perlu divalidasi oleh tenaga medis melalui pemeriksaan lanjutan. Saat ini, akurasi AI yang dikembangkan mencapai 64% dan terus ditingkatkan hingga target 80%. Timnya terus mengumpulkan data tambahan dari berbagai daerah.

"Pengumpulan data yang beragam penting agar model AI mampu membaca kondisi yang lebih bervariasi, termasuk riwayat penyakit, gejala klinis, dan riwayat TBC pasien," jelas Wahyono.

Penelitian ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan, pemerintah daerah, dan organisasi yang fokus pada isu disabilitas, gender, dan penyakit menular seperti malaria.

Scroll to Top