JALUR GAZA – Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza mencapai titik nadir, mendorong mayoritas anggota Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menyerukan penghentian segera krisis kelaparan yang melanda wilayah tersebut. Mereka mendesak Israel untuk menghentikan operasi militer dan memberlakukan gencatan senjata.
Dalam pernyataan bersama usai pertemuan DK PBB membahas perkembangan di Timur Tengah, para anggota mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas bencana kelaparan yang diumumkan secara resmi oleh PBB di Gaza.
"Menjadikan kelaparan sebagai senjata perang adalah pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional," bunyi pernyataan tersebut, menekankan bahwa sekitar 41.000 anak-anak menghadapi risiko kematian akibat kekurangan gizi.
Para anggota DK PBB mendesak "gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen," serta pembebasan tanpa syarat para tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas.
Perbedaan Sikap AS
Berbeda dengan mayoritas anggota DK PBB, Amerika Serikat membela tindakan Israel. Perwakilan AS menolak klaim "kebijakan kelaparan" di Gaza dan meragukan validitas temuan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB.
Menurut perwakilan AS, badan tersebut dianggap "tidak kredibel," meskipun mengakui bahwa kelaparan merupakan masalah serius dan kebutuhan kemanusiaan di Gaza sangat mendesak.
IPC sebelumnya telah menyatakan bencana kelaparan di Gaza, melaporkan lebih dari setengah juta orang terdampak, dengan prediksi krisis akan meluas ke Deir al-Balah dan Khan Yunis dalam beberapa minggu mendatang.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan kampanye militer Israel yang sedang berlangsung di Kota Gaza. Pasukan Israel terus melakukan pengeboman, penghancuran, dan penyerbuan di berbagai wilayah, menyebabkan ribuan warga Palestina mengungsi.
Sejak Oktober 2023, Israel telah melancarkan serangan besar-besaran di Gaza, menyebabkan kematian massal, kelaparan, penghancuran, dan pengungsian paksa, yang bertentangan dengan seruan internasional dan putusan Mahkamah Internasional.
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa lebih dari 62.000 orang telah tewas dan 158.000 lainnya terluka sejak konflik dimulai. Lebih dari 300 warga Palestina, termasuk anak-anak, dilaporkan meninggal karena kelaparan.