Warga Rusia, negara pengekspor energi terbesar di dunia, kini menghadapi situasi ironis: semakin sulit mengisi penuh tangki bensin. Krisis bahan bakar melanda berbagai wilayah akibat serangan drone Ukraina yang melumpuhkan sebagian besar kilang minyak dalam beberapa pekan terakhir, memicu lonjakan harga dan kelangkaan pasokan di dalam negeri.
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di wilayah timur jauh, selatan Rusia, hingga Semenanjung Krimea dilaporkan kehabisan stok. Pengendara terpaksa beralih ke bensin dengan kadar oktan lebih tinggi yang jauh lebih mahal karena bensin reguler A-95 semakin langka. Seorang pengendara di Dalnegorsk mengungkapkan bahwa mereka harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian.
Serangan udara Ukraina sejak awal Agustus telah menghancurkan sekitar 17% kapasitas kilang minyak Rusia atau setara dengan 1,1 juta barel per hari. Serangan terbaru dilaporkan mengenai pipa minyak Ryazan-Moskow, salah satu jalur utama pemasok bahan bakar ke ibu kota. Analis energi Boris Aronstein menyebut serangan ini masif, terkoordinasi, dan berulang, membuat kilang tak punya waktu memperbaiki kerusakan sebelum serangan berikutnya datang. Ia menegaskan bahwa ini merupakan krisis BBM paling parah yang dialami Rusia dalam beberapa tahun terakhir.
Harga grosir bensin A-95 melonjak hingga 82.300 rubel per ton, hampir 54% lebih tinggi dibanding Januari lalu. Lonjakan ini menambah beban warga di tengah antrian panjang di SPBU. Bahkan, sebuah kanal otomotif populer menyindir bahwa sebentar lagi bensin akan dituang ke gelas sampanye, bukan ke tangki mobil.
Ironisnya, krisis ini terjadi di negara yang dikenal sebagai eksportir energi raksasa, dengan minyak mentah diekspor besar-besaran ke India dan China. Namun, sebagian besar kilang Rusia lebih difokuskan untuk produksi ekspor, sementara pasokan dalam negeri nyaris tidak memiliki cadangan penyangga. Produksi domestik hanya cukup menutupi kebutuhan dalam negeri, sehingga begitu ada gangguan, sistem langsung kewalahan.
Kondisi makin sulit karena sanksi Barat memutus akses Rusia terhadap teknologi perbaikan kilang, membuat proses pemulihan infrastruktur energi berjalan lebih lambat. Bahkan sebelum serangan terakhir, pemerintah Rusia sudah memperketat larangan ekspor bensin untuk menahan lonjakan permintaan domestik.
Di Krimea, dampaknya lebih buruk. Musim panas yang biasanya penuh wisatawan Rusia kini berubah kacau akibat bandara ditutup karena ancaman drone, sehingga arus wisatawan beralih ke jalur darat dan meningkatkan tekanan terhadap pasokan BBM. Kepala administrasi Krimea meminta warga bersabar dan menyatakan bahwa semua langkah stabilisasi harga sedang dilakukan.
Meski begitu, para analis menilai krisis bensin ini belum cukup untuk mengguncang upaya perang Rusia. Sebagian besar sektor industri dan militer Rusia masih mengandalkan solar, bukan bensin. Namun, jika serangan drone berlanjut hingga musim dingin, pemerintah mungkin terpaksa menerapkan sistem penjatahan bensin.