Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga 2% pada perdagangan hari ini, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Analis pasar modal menyoroti bahwa aksi demonstrasi yang berujung jatuhnya korban jiwa menjadi salah satu faktor utama yang memicu koreksi ini.
Sentimen negatif dari demonstrasi dikhawatirkan dapat mengubah psikologis investor dan menghambat arus modal asing masuk ke pasar saham. Ketidakstabilan politik yang ditimbulkan oleh demonstrasi menjadi perhatian utama, memicu aksi jual dan menekan IHSG.
Selain faktor demonstrasi, momentum bullish IHSG juga dinilai mulai kehilangan tenaga. Kegagalan indeks untuk bertahan di level psikologis 8.000 sebanyak dua kali mengindikasikan adanya potensi koreksi yang lebih dalam.
Analis memprediksi bahwa jika IHSG gagal bertahan di level 7.900, maka ada kemungkinan indeks akan terus melemah menuju 7.800. Penurunan di bawah level 7.800 dapat mengkonfirmasi perubahan tren menjadi bearish.
Faktor lain yang turut menekan IHSG adalah pelemahan nilai tukar rupiah dan arus dana asing yang keluar dalam dua hari terakhir. Selain itu, faktor musiman juga turut berperan, di mana bulan September secara historis cenderung menjadi periode koreksi bagi pasar saham.
Analis lain menambahkan bahwa koreksi IHSG erat kaitannya dengan aksi demonstrasi yang terjadi. Kondisi politik dan keamanan domestik memiliki pengaruh signifikan terhadap pelemahan IHSG.
Faktor historis juga menunjukkan bahwa kinerja IHSG pada bulan September dalam lima tahun terakhir cenderung bearish. Namun, periode Oktober hingga Desember biasanya menunjukkan tren yang lebih positif.
Jika IHSG terus diperdagangkan di bawah level 7.750, maka potensi fase konsolidasi bearish akan semakin terbuka lebar. Investor diimbau untuk berhati-hati dan mempertimbangkan strategi investasi yang lebih konservatif di tengah ketidakpastian pasar saat ini.