Danantara baru saja meluncurkan obligasi Patriot Bonds senilai Rp50 triliun dengan kupon menarik, 2 persen per tahun, dan tenor 5 hingga 7 tahun. Langkah ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana dampaknya bagi pasar saham Indonesia?
Sorotan Utama:
- Penerbitan Patriot Bonds berpotensi menyedot likuiditas dari pasar dan mendongkrak biaya dana perbankan. Indikasi ini terlihat dari penurunan harga saham BBCA, bahkan ketika Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga.
- Dalam jangka pendek, bank mungkin akan menunda penurunan cost of fund. Arah suku bunga ke depan masih bergantung pada kebijakan The Fed dan langkah BI selanjutnya.
- Dari sisi positif, Patriot Bonds yang berkaitan dengan program waste to energy bisa menjadi katalis bagi saham-saham perusahaan pengelola sampah dan energi berbasis limbah, seperti OASA, UNTR, BIPI, TOBA, dan MHKI.
Patriot Bonds ini dianggap mirip dengan konsep impact investing. Namun, penggunaan Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) untuk menerbitkan obligasi impact investing dinilai kurang tepat. Sebagai pengelola dana negara, Danantara seharusnya fokus pada pertumbuhan aset untuk membiayai kebutuhan di masa depan.
Di sisi lain, Patriot Bonds yang diklaim didukung oleh konglomerat Indonesia ini berpotensi memberikan dampak kurang baik bagi perbankan. Dana murah yang selama ini disimpan para konglomerat di bank berpotensi dialihkan ke Patriot Bonds. Akibatnya, bank yang seharusnya menikmati keuntungan dari penurunan suku bunga BI, justru terancam mengalami kenaikan cost of fund karena harus mencari sumber dana pengganti.
Penurunan harga saham BBCA sebesar 6,9 persen dalam periode singkat (13-28 Agustus 2025) menjadi indikasi kuat. Bahkan, BBCA tetap merosot meski BI menurunkan suku bunga, berbeda dengan tren saham bank BUMN yang justru naik. Hal ini diduga terkait dengan partisipasi Grup Djarum, pengendali BBCA, dalam penawaran Patriot Bonds.
Kehadiran Patriot Bonds senilai Rp50 triliun, bersamaan dengan penerbitan SBN ritel seri SR023, menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan. Secara historis, penyerapan dana SBN ritel bisa mencapai Rp10 triliun hingga Rp20 triliun per penerbitan.
Dalam jangka pendek, emiten bank berpotensi mengalami penundaan penurunan biaya dana. Meskipun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menurunkan tingkat bunga penjamin simpanan rupiah, penurunan ini lebih merupakan respons terhadap penurunan suku bunga BI sebelumnya.
Namun, jika The Fed menurunkan suku bunga pada September 2025, BI memiliki ruang untuk kembali menurunkan suku bunga, yang diharapkan berdampak positif bagi emiten bank pada tahun 2026.
Danantara berencana menggunakan dana Patriot Bonds untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045, mengatasi tantangan rendahnya tenaga kerja di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika, serta mengatasi krisis sampah nasional melalui pengembangan waste to energy.
Hal ini menjadikan saham-saham terkait manajemen pengelolaan sampah menjadi menarik. Apalagi, beberapa perusahaan telah mengumumkan rencana ekspansi ke pembangkit listrik tenaga sampah. Beberapa saham yang terkait dengan rencana ini antara lain OASA, UNTR, dan BIPI. Selain itu, TOBA dan MHKI memiliki bisnis sebagai pengelola sampah, bahkan MHKI telah memiliki klien dari PLN untuk mengelola limbah di PLTU.
Revisi Perpres Nomor 35 tahun 2018 terkait percepatan pembangunan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan juga menjadi angin segar. Revisi ini mencakup penyederhanaan proses bisnis, penghapusan tipping fee, dan insentif tarif listrik menarik untuk investasi di pembangkit listrik tenaga sampah.
Dengan demikian, penerbitan Patriot Bonds ini menghadirkan dua sisi mata uang bagi pasar saham. Di satu sisi, berpotensi menekan kinerja sektor perbankan. Namun, di sisi lain, membuka peluang investasi di sektor waste to energy yang menjanjikan.