Proyek Gas Abadi Masela: Tahap Desain Dimulai, Potensi Ekonomi Fantastis

Proyek gas raksasa Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku, secara resmi memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED) atau desain rekayasa teknis untuk fasilitas kilang darat LNG (OLNG). Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam pengembangan salah satu proyek energi terbesar di Indonesia.

President and CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, mengungkapkan bahwa proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 20,94 miliar atau setara Rp 342,56 triliun ini diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia. Diperkirakan, proyek ini akan menyumbang sekitar US$ 150 miliar atau Rp 2.543 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) RI dan menciptakan 70.000 lapangan kerja selama 30 tahun ke depan.

Dimulainya tahap FEED dipandang sebagai langkah krusial dalam meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan energi di Indonesia. Lebih lanjut, proyek ini akan menjadi pionir dalam penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak awal produksi, yang berperan penting dalam dekarbonisasi Indonesia.

Lapangan Abadi, Blok Masela, merupakan ladang gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia, diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Kontrak bagi hasil proyek yang telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton per tahun (mtpa) LNG dan 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari (bph).

Proyek pengembangan lapangan greenfield yang kompleks ini mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO, dan kilang LNG darat, yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar bagi para pihak yang terlibat.

Penerapan teknologi CCS pada Blok Masela akan menghasilkan LNG bersih, mendukung program pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendorong keberlanjutan di era transisi energi.

Inpex Masela Ltd memegang hak partisipasi (PI) terbesar di Blok Masela, yakni 65%. Saham 35% sisanya sebelumnya dimiliki oleh Shell, namun kini telah diambil alih oleh PT Pertamina Hulu Energi (20%) dan Petronas (15%) sejak Juli 2023.

Scroll to Top