Venezuela Tingkatkan Kesiagaan Militer di Tengah Ketegangan dengan AS

Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah Presiden Nicolas Maduro dengan tegas menolak kemungkinan kehadiran pasukan AS di wilayahnya. Pernyataan ini muncul seiring dengan peningkatan signifikan kehadiran militer AS di Karibia.

Maduro menekankan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan pasukan AS memasuki Venezuela. Ia menyatakan hal ini saat armada kapal perang dan kapal selam nuklir AS dikerahkan di perairan dekat Venezuela. AS mengklaim operasi ini bertujuan untuk memerangi kartel narkoba di Amerika Latin.

"Tidak mungkin mereka bisa memasuki Venezuela," tegas Maduro dalam pidatonya. "Hari ini, kami lebih kuat dari kemarin. Hari ini, kami lebih siap untuk membela perdamaian, kedaulatan, dan integritas teritorial."

Tindakan AS ini memicu protes diplomatik dari Venezuela. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, telah bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menyampaikan keberatan negaranya. Moncada menuduh Washington melakukan kampanye pencitraan untuk membenarkan intervensi militer.

"Ini adalah operasi propaganda besar-besaran untuk membenarkan apa yang oleh para pakar disebut aksi kinetik – artinya intervensi militer di sebuah negara yang berdaulat, merdeka, dan tidak mengancam siapa pun," kata Moncada.

Ia bahkan menyindir klaim AS dengan mengatakan bahwa penggunaan kapal selam nuklir untuk memerangi narkoba adalah tindakan yang tidak masuk akal.

Pihak militer AS membenarkan pengerahan armada tersebut. Laksamana Daryl Claude, Kepala Operasi Angkatan Laut AS, menyatakan bahwa kapal-kapal perang dikerahkan ke perairan Amerika Selatan karena keterlibatan sejumlah warga Venezuela dalam operasi narkoba berskala besar.

Dilaporkan bahwa tujuh kapal perang dan satu kapal selam penyerang bertenaga nuklir telah berada atau dijadwalkan tiba di kawasan tersebut. Armada ini membawa lebih dari 4.500 personel, termasuk sekitar 2.200 marinir.

Operasi besar-besaran ini diluncurkan setelah pemerintahan Donald Trump menuduh Maduro dan sejumlah pejabat tinggi Venezuela terlibat dalam perdagangan kokain melalui jaringan yang dikenal sebagai Cartel de los Soles. AS bahkan menetapkan jaringan itu sebagai organisasi teroris dan menawarkan hadiah hingga US$50 juta untuk penangkapan Maduro.

Sebagai tanggapan, Venezuela meningkatkan kesiagaan militer. Pemerintah Venezuela mengerahkan kapal perang dan drone untuk berpatroli di sepanjang garis pantai, serta melancarkan kampanye perekrutan ribuan anggota milisi baru guna memperkuat pertahanan domestik. Sebanyak 15.000 tentara juga dikirim ke perbatasan dengan Kolombia untuk menindak perdagangan narkoba dan kelompok kriminal bersenjata.

Maduro juga berterima kasih kepada Kolombia karena mengirim tambahan 25.000 personel militer di wilayah perbatasan kedua negara. Langkah itu, menurut Maduro, merupakan bagian dari upaya bersama memerangi "geng narco-teroris".

Scroll to Top