Kondisi anak-anak di Gaza, Palestina, sangat memprihatinkan akibat kelaparan yang melanda. Bahkan untuk menangis pun mereka tak memiliki kekuatan.
Kepala badan amal internasional, Save the Children, Inger Ashing, dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB mengungkapkan, kelaparan di Gaza bukan sekadar istilah. Ketika makanan tak mencukupi, anak-anak mengalami kekurangan gizi parah dan meninggal perlahan dengan rasa sakit. Tubuh mereka mengonsumsi lemak sendiri untuk bertahan hidup, dan ketika lemak habis, tubuh memakan otot serta organ vital.
Klinik-klinik sepi. Anak-anak terlalu lemah untuk berbicara atau menangis kesakitan. Mereka hanya terbaring kurus kering, merana. Kelompok-kelompok bantuan telah lama memperingatkan tentang kelaparan ini, akibat pembatasan masuknya makanan dan kebutuhan pokok ke Gaza.
Ashing menyerukan tindakan untuk menghentikan kekejaman ini.
PBB secara resmi mendeklarasikan kelaparan di Gaza, menyalahkan penghalangan sistematis bantuan oleh Israel selama lebih dari 22 bulan perang. Integrated Food Security Phase Classification Initiative (IPC) memperkirakan kelaparan telah berdampak pada 500.000 orang di Jalur Gaza, dan akan meluas ke dua pertiga wilayah Gaza pada akhir September.
14 anggota Dewan Keamanan PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas deklarasi kelaparan, dan mempercayai pekerjaan serta metodologi IPC. Mereka menegaskan bahwa penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dilarang, dan kelaparan di Gaza harus segera dihentikan.