Hai, Investor!
S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada penutupan perdagangan Kamis (28/8), melonjak 0,32% ke level 6.502. Pemicunya? Revisi positif data pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua 2025. Ekonomi AS tumbuh 3,3% secara tahunan, melampaui ekspektasi dan estimasi awal.
Secara mingguan, S&P 500 menguat 2,07%. Indeks Dolar AS (DXY) relatif stabil (-0,82%), sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 12 bps menjadi 4,2%. Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang membuka peluang penurunan suku bunga pada September 2025, menjadi sentimen penting.
Probabilitas pemangkasan suku bunga AS pada pertemuan September 2025 tetap tinggi, sekitar 85%.
Di tengah euforia S&P 500, IHSG justru terkoreksi 1,53% ke level 7.830 pada Jumat (29/8), tertekan sentimen negatif dari demonstrasi.
Fokus Pasar Selanjutnya
Investor menantikan data penting: indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS, data tenaga kerja AS, dan data inflasi AS. Data-data ini akan memengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga pada pertemuan 16–17 September 2025. Data tenaga kerja AS yang lemah dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang pemangkasan suku bunga.
Sorotan Kinerja Emiten
- $AADI (Adaro Andalan Indonesia): Laba bersih semester I 2025 mencapai 429 juta dolar AS (-50,1% YoY), melampaui ekspektasi.
- $BSSR (Baramulti Suksessarana): Laba bersih kuartal II 2025 sebesar 30 juta dolar AS (+54% QoQ, -21% YoY).
- $PTRO (Petrosea): Mendapatkan fasilitas kredit berjangka hingga 2,5 triliun rupiah dari Bank Mandiri ($BMRI).
- $AMMN (Amman Mineral Internasional): Komisaris Alexander Ramlie menjual ~283 juta saham AMMN.
- $HRTA (Hartadinata Abadi): Kerja sama jual beli logam mulia dengan anak usaha United Tractors ($UNTR).
Informasi Penting Lainnya
- Bank Indonesia (BI) akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas, obligasi, dan NDF.
- BEI akan memberlakukan transaksi short selling mulai 29 September 2025.
- Satgas Penertiban Kawasan Hutan berencana menertibkan tambang ilegal per 1 September 2025.
- Pengendali Nusantara Sawit Sejahtera ($NSSS) menjual ~174,4 juta saham NSSS.
- Indomobil Sukses Internasional ($IMAS) mengakuisisi 99,9% saham PT Nissan Motor Indonesia.