Film animasi Panji Tengkorak hadir sebagai angin segar di industri animasi Indonesia yang semakin berkembang. Disutradarai oleh Daryl Wilson, film ini menjanjikan pengalaman berbeda dengan gaya yang lebih kelam dan brutal, menargetkan penonton dewasa. Diadaptasi dari komik legendaris karya Hans Jaladara, ekspektasi terhadap film ini sangat tinggi.
Sayangnya, setelah 90 menit menonton, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Dari segi penulisan cerita, alur maju mundur yang dipilih Agung Prasetiarso dan Theo Arnoldy sebagai penulis, memiliki risiko tersendiri. Tema origin tale yang kuat seharusnya membawa penonton lebih dekat dengan karakter Panji Tengkorak (diisi suara oleh Denny Sumargo). Namun, penceritaan masa lalu Panji terasa kurang mendalam karena disampaikan secara terpisah. Latar belakang kerajaan dan pusaka Adidaya pun hanya terungkap sepintas.
Film ini juga memperkenalkan terlalu banyak karakter, sehingga penonton perlu fokus ekstra untuk mencerna peran masing-masing. Meski begitu, departemen pengisi suara patut diapresiasi. Denny Sumargo berhasil menghidupkan Panji dengan suaranya. Candra Mukti sebagai pengisi suara Kuwuk juga mampu memberikan sentuhan komedi yang menyegarkan.
Secara visual, animasi 2D digital yang digunakan sudah cukup matang, tetapi masih bisa dieksplorasi lebih jauh. Adegan laga yang menjadi daya tarik film ini seharusnya bisa divisualisasikan dengan lebih megah dan intens.
Tata musik menjadi salah satu catatan penting. Beberapa kali, scoring musik terasa berlebihan dan mengganggu dialog. Penempatan lagu "Bunga Terakhir" yang dibawakan Iwan Fals dan Isyana Sarasvati sebagai official soundtrack juga kurang pas dengan adegan yang ditampilkan.
Walaupun memiliki banyak kekurangan, Panji Tengkorak tetap pantas didukung. Film ini berani menawarkan cerita yang berbeda melalui medium animasi. Dengan perbaikan yang berkelanjutan dan dukungan yang kuat, Panji Tengkorak memiliki potensi besar untuk menjadi IP animasi Indonesia yang sukses.