Kasus infeksi bakteri pemakan daging semakin mengkhawatirkan di Amerika Serikat. Linard Lyons, seorang nelayan dari New Orleans, menjadi salah satu korbannya. Awalnya hanya goresan kecil di kaki saat menangkap kepiting, luka tersebut nyaris merenggut nyawanya.
Lyons awalnya tak merasakan gejala serius, namun keesokan harinya ia mengalami demam tinggi, muntah, dan halusinasi. Yang lebih mengkhawatirkan, muncul luka hitam yang menyebar dengan cepat di kaki kirinya. Dokter mendiagnosisnya dengan fasciitis nekrotikans, infeksi serius akibat bakteri Vibrio vulnificus yang merusak jaringan di bawah kulit.
Vibrio vulnificus berkembang biak di perairan pesisir yang hangat, terutama di perairan payau. Data menunjukkan peningkatan kasus infeksi Vibrio yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Saat kondisinya memburuk, Lyons menghadapi pilihan sulit: amputasi atau risiko kematian. Dokter hanya memberi peluang hidup 50%. Untungnya, tim medis berhasil menghentikan penyebaran infeksi tanpa harus mengamputasi kakinya. Setelah perawatan intensif, Lyons dinyatakan bebas dari bakteri tersebut, namun pemulihannya masih panjang.
Bakteri Vibrio vulnificus umumnya tidak berbahaya bagi orang sehat. Namun, individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah lebih rentan terhadap infeksi serius. Ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari air laut jika memiliki luka terbuka atau luka yang berpotensi terinfeksi.
Para ahli meyakini perubahan iklim mempercepat penyebaran bakteri ini. Kenaikan suhu laut dan permukaan air laut menciptakan kondisi ideal bagi Vibrio untuk berkembang biak. Mencairnya gletser juga menurunkan kadar salinitas laut, membuat lingkungan lebih ramah bagi bakteri tersebut. Kondisi ini membuat lebih banyak bakteri bertahan hidup melewati musim dingin, sehingga meningkatkan risiko wabah di musim panas.
Kasus Vibrio vulnificus menjadi contoh nyata bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi kesehatan manusia.