Eskalasi Serangan Drone Rusia ke Ukraina: Kilas Balik dan Proyeksi Dampak

Perang di Ukraina telah menjadi ajang unjuk gigi bagi persenjataan modern, dengan drone kamikaze Rusia memegang peranan penting sejak invasi Februari 2022. Drone seperti Shahed dan ZALA Lancet menjadi tulang punggung operasi udara Rusia, diproduksi massal dan digunakan untuk menyerang beragam target, termasuk infrastruktur militer. Strategi yang diterapkan meliputi gelombang serangan drone besar-besaran untuk melumpuhkan pertahanan udara Ukraina, mengiringi serangan balasan, atau menargetkan situs-situs vital seperti pembangkit listrik dan fasilitas nuklir.

Berikut adalah beberapa serangan drone Rusia terbesar dan paling signifikan terhadap Ukraina dari tahun 2022 hingga 2025:

1. Serangan Terparah dalam Sejarah Konflik (22–23 Februari 2025):

Serangan pada malam tersebut mencapai puncak kekerasan dalam konflik. Rusia meluncurkan total 267 drone Shahed, ribuan drone pengelabuan, dan tiga misil balistik. Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh 138 drone, namun 119 drone pengelabuan hilang tanpa efek berarti. Serangan ini menjangkau berbagai wilayah, dari Kyiv, Kharkiv, Sumy hingga Odesa, mencerminkan skala dan intensitas operasi Rusia.

2. Puncak Serangan Udara Gabungan (24–25 Mei 2025):

Serangan udara ini mencatatkan rekor penggunaan drone dan misil terbanyak dalam satu malam, yaitu 69 misil dan 298 drone, dengan total 367 serangan udara. Lebih dari 30 kota dan desa di seluruh Ukraina menjadi sasaran, termasuk Kyiv, Odesa, Kharkiv, Dnipro, dan Mykolaiv. Presiden Zelensky menyebut serangan itu sebagai yang "paling masif" sejak invasi 2022.

3. Rekor Serangan Drone Bulanan (Juli 2025):

Rusia mencatatkan rekor baru dengan meluncurkan lebih dari 6.000 drone dalam satu bulan, tertinggi sejak dimulainya perang. Sebanyak 6.129 drone Shahed digunakan, hampir 14 kali lipat dari jumlah bulan Juli tahun sebelumnya. Pada satu malam, tepatnya 9 Juli, Rusia meluncurkan 741 drone dan drone pengelabuan ke Ukraina Barat. Serangan ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan.

4. Serangan Jelang Ulang Tahun Perang (Sekitar 24 Februari 2025):

Menjelang peringatan perang, Rusia melancarkan serangan drone besar dengan sekitar 273 drone dan drone pengelabuan. 88 berhasil dicegat, sementara 128 lainnya hilang, kemungkinan akibat jamming elektronik. Serangan ini menyasar wilayah Kyiv, Dnipropetrovsk, dan Donetsk.

5. Serangan terhadap Pembangkit Listrik (22 Maret 2024):

Rusia melancarkan serangan besar dengan 88 misil dan 63 drone serentak di berbagai kawasan, berdampak pada lebih dari 20 daerah. Serangan ini menonaktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Air Dnieper (Dnieper HPP), menyebabkan jutaan warga kehilangan akses listrik.

6. Serangan terhadap Fasilitas Nuklir (14 Februari 2025):

Sebuah drone tempur Rusia menghantam struktur New Safe Confinement di PLTN Chernobyl, merusak pelindung reaktor lama. Beruntung, tidak ada peningkatan radiasi atau korban jiwa yang dilaporkan.

7. Serangan Terbesar terhadap Kharkiv (7 Juni 2025):

Serangan ini melibatkan 48 drone, ditambah misil dan bom luncur, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.

8. Efektivitas ZALA Lancet (Mei 2024):

Drone kamikaze ZALA Lancet dari Rusia menjadi senjata efektif. Pada Mei 2024 saja, tercatat 285 serangan Lancet dalam 29 hari. Drone ini digunakan untuk menyerang berbagai kendaraan militer Ukraina.

9. Serangan Terbesar di Kyiv (November 2023):

Rusia melepaskan lebih dari 75 drone Shahed ke Kyiv, kebanyakan berhasil ditembak jatuh. Demikian pula, pada 8 Mei 2023, tercatat serangan drone dan misil terbesar sebelum itu, melukai warga sipil dan menghancurkan gudang bantuan di Odesa.

Serangan drone Rusia ke Ukraina telah berevolusi menjadi kampanye udara intensif dan berkelanjutan. Strategi yang diterapkan mengandalkan skala besar, target kritis, dan penggunaan drone canggih. Ukraina menghadapi tekanan besar pada sistem pertahanannya, konsekuensi kemanusiaan, dan kerusakan infrastruktur. Skala dan intensitas serangan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan udara yang lebih tangguh dan respons diplomatik terhadap agresi semacam ini.

Scroll to Top