Rupiah Tertekan Akibat Demo dan Aksi Ambil Untung, Mata Uang Asia Lainnya Bagaimana?

Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS di tengah gelombang demonstrasi yang melanda Indonesia. Meski demikian, pelemahan ini tidak hanya dialami oleh rupiah, beberapa mata uang Asia lainnya juga tertekan sepanjang pekan ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29 Agustus 2025), rupiah berada di level Rp16.485 per dolar AS, melemah sebesar 0,87% dalam sehari. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak 8 April 2025. Level penutupan ini juga merupakan yang terendah sejak 1 Agustus 2025. Secara mingguan, rupiah terdepresiasi 0,9%, berbanding terbalik dengan penguatan tipis di minggu sebelumnya.

Selain faktor demonstrasi, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh aksi ambil untung oleh investor di akhir bulan. Permintaan dolar AS yang tinggi untuk pembayaran utang luar negeri dan impor juga turut menekan rupiah.

Namun, kondisi ini diperkirakan bersifat sementara. Pasar saat ini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (Personal Consumption Expenditure/PCE). Data yang lebih rendah atau stagnan berpotensi mendorong penguatan rupiah seiring dengan melemahnya dolar AS. Stabilitas sosial dalam negeri juga akan menjadi faktor penentu arah pergerakan rupiah ke depan.

Pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia. Peso Filipina mengalami penurunan tajam setelah bank sentral Filipina (BSP) menurunkan suku bunga acuannya. Rupee India bahkan menyentuh titik terendah sepanjang sejarah, menembus level 88 per dolar AS akibat kekhawatiran terhadap dampak tarif tambahan dari AS terhadap pertumbuhan ekonomi India.

Di sisi lain, People’s Bank of China (PBOC) secara mengejutkan menaikkan kurs tengah harian yuan terhadap dolar AS dengan margin terbesar dalam hampir setahun. Langkah ini diinterpretasikan sebagai sinyal perubahan strategi moneter PBOC, dari stabilisasi menjadi dorongan apresiasi bertahap yuan. Penguatan yuan berpotensi menarik kembali aliran modal ke saham China dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik. Namun, hal ini juga bisa menekan daya saing ekspor China.

Scroll to Top