Kota Gaza, wilayah terpadat di Jalur Gaza, kini dinyatakan sebagai "zona pertempuran berbahaya" oleh militer Israel. Pengumuman ini menjadi sinyal kuat rencana serangan skala besar untuk merebut kendali kota dan melumpuhkan kelompok Hamas.
Tekanan internasional dan domestik semakin gencar mendesak Israel untuk mengakhiri operasi militernya di Jalur Gaza. Sebagian besar penduduk telah mengungsi setidaknya sekali selama konflik ini, dan PBB telah menyatakan situasi kelaparan di wilayah tersebut.
Meski demikian, militer Israel tampak mantap melanjutkan rencana mereka. Serangan-serangan di pinggiran Kota Gaza terus ditingkatkan sebagai persiapan untuk operasi yang lebih luas.
"Kami tidak akan menunggu," tegas juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, melalui media sosial. "Kami telah memulai operasi pendahuluan dan tahap awal serangan terhadap Kota Gaza, dan saat ini kami beroperasi dengan kekuatan besar di pinggiran kota."
Eskalasi ini mengakhiri jeda sementara yang sebelumnya diberlakukan untuk memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan. "Jeda taktis lokal dalam aktivitas militer tidak akan berlaku di area Kota Gaza," tegas militer Israel.
Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, juga menegaskan bahwa pasukannya akan "meningkatkan serangan di area Kota Gaza" dalam beberapa pekan mendatang.
PBB memperkirakan hampir satu juta orang saat ini berada di area administrasi Gaza, termasuk Kota Gaza dan sekitarnya. Pekan lalu, PBB menetapkan bencana kelaparan di wilayah tersebut, menyalahkan "hambatan sistematis" Israel terhadap pengiriman bantuan kemanusiaan.
Militer Israel belum secara eksplisit meminta penduduk sipil untuk segera meninggalkan area tersebut. Namun, sebelumnya Adraee menyatakan bahwa evakuasi Kota Gaza "tidak dapat dihindari."
Badan COGAT, yang mengawasi urusan sipil di wilayah Palestina, mengindikasikan persiapan untuk "memindahkan penduduk ke area selatan demi perlindungan mereka."
Badan-badan kemanusiaan memperingatkan Israel agar tidak memperluas operasi militernya. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, mengingatkan bahwa "ada hampir satu juta orang di antara kota tersebut dan wilayah utara yang pada dasarnya tidak memiliki tujuan, bahkan tidak mempunyai sumber daya untuk pindah."