GAZA – Kondisi kesehatan di Gaza semakin memburuk di tengah gempuran bom Israel yang terus meningkat. Puluhan warga Palestina dilaporkan tiba di rumah sakit dan pusat medis dengan gejala penyakit misterius yang belum teridentifikasi.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa gejala-gejala tersebut meliputi demam tinggi, nyeri sendi, pilek, batuk, dan diare. Kondisi ini menambah penderitaan warga yang sudah tercekik oleh blokade Israel dan kekurangan sumber daya medis yang parah.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Munir al-Bursh, mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya fasilitas medis dasar untuk mendiagnosis penyakit tersebut, seperti laboratorium dan kemampuan melakukan tes darah sederhana.
Staf medis terpaksa bekerja dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Al-Bursh memberikan contoh bagaimana batu bata digunakan untuk menyangga anggota tubuh yang patah, operasi dilakukan dengan penerangan ponsel, dan ventilasi mekanis dilakukan secara manual saat pemadaman listrik akibat kekurangan bahan bakar.
"Semua ini terjadi di tengah serangan genosida, kelaparan sistematis, dan ancaman pendudukan penuh," tegas Bursh.
Krisis kemanusiaan di Gaza diperparah oleh kekurangan makanan, air, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan. Serangan Israel yang terus-menerus telah menyebabkan lebih dari 63.000 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023, dan menghancurkan wilayah tersebut, menyebabkan kelaparan akut.
Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di Gaza.
Masyarakat internasional diharapkan untuk segera bertindak mengatasi krisis kemanusiaan dan kesehatan yang memprihatinkan di Gaza.