Mencari Penerus Sang Badut: Tantangan Terberat DCU Bukan Batman, Tapi Joker!

Perdebatan tentang siapa yang pantas mengenakan jubah Batman di semesta baru DC (DCU) memang ramai. Namun, tahukah kamu? Tugas terberat James Gunn dan timnya sebenarnya adalah menemukan aktor yang tepat untuk memerankan Joker.

Kenapa begitu? Beban warisan yang diemban karakter ini terlalu berat. Kita sudah punya Heath Ledger yang fenomenal, Joaquin Phoenix yang menghadirkan Joker tragis, dan tentu saja, Jack Nicholson yang ikonik.

Menemukan aktor yang mampu memberikan interpretasi segar namun tetap relevan dengan visi DCU bukanlah perkara mudah. Apalagi, DCU menawarkan pendekatan cerita yang berbeda dari DCEU sebelumnya. Gaya narasi yang lebih eklektik, memadukan humor, horor, dan elemen serius, membutuhkan Joker yang adaptif.

Bayangkan saja, film Clayface yang akan datang digadang-gadang sebagai film horor yang terhubung dengan kota Gotham. Ini berarti, Joker baru harus mampu tampil mengerikan dalam film horor, namun tetap kohesif jika muncul di proyek lain, baik serial televisi maupun video game. Seperti yang James Gunn pernah sampaikan, karakter-karakter DCU akan hadir lintas medium.

Petunjuk tentang penggantian Joker sebenarnya sudah tersirat di Peacemaker season 2. Dialog antara Peacemaker dan Emilia Harcourt yang menyindir band Thirty Seconds to Mars, band yang vokalisnya adalah Jared Leto (Joker versi DCEU), semakin menguatkan indikasi bahwa Leto tidak akan kembali. Sindiran yang diulang di post-credit scene semakin menegaskan hal ini.

Kini, tinggal menunggu siapa aktor yang berani dan dipercaya mengemban peran seberat ini. Karena, Joker bukan sekadar musuh bebuyutan Batman. Di DCU, ia harus relevan dengan dunia yang lebih luas, sambil tetap menjadi ikon kekacauan yang kita kenal. Jika pemilihan pemerannya tepat, bukan tidak mungkin Gotham menjadi bagian paling menarik dari keseluruhan DCU.

Scroll to Top