Campak adalah penyakit menular yang seringkali ditandai dengan demam tinggi, ruam kulit, dan peradangan. Meskipun demikian, gejala campak seringkali disalahartikan dengan penyakit lain yang memiliki kemiripan gejala. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis campak.
Penting untuk mengetahui tahapan dan gejala campak agar dapat membedakannya dari penyakit lain. Penyakit ini memiliki tiga stadium utama:
Stadium Prodromal: Demam tinggi (di atas 38,5 derajat Celcius) disertai batuk, pilek, mata merah dan berair (konjungtivitis), serta munculnya bintik-bintik putih kecil di bagian dalam pipi (koplik spots). Stadium ini biasanya berlangsung selama 1-3 hari.
Stadium Ruam (Erupsi): Munculnya ruam merah yang dimulai dari kepala dan menyebar ke seluruh tubuh. Ruam ini biasanya muncul pada hari ke-4 hingga ke-6 setelah demam, disertai dengan batuk pilek dan mata merah. Stadium erupsi berlangsung selama 5-6 hari.
Stadium Penyembuhan: Setelah muncul ruam, memasuki fase penyembuhan. Demam akan menurun, ruam merah akan berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi), dan kulit akan mengelupas. Pada tahap ini, pasien akan sembuh jika tidak ada komplikasi.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat campak meliputi radang paru (pneumonia), diare, radang otak (ensefalitis), dan radang telinga (otitis media).
Faktor Risiko Campak:
- Status imunisasi yang rendah atau tidak lengkap.
- Kondisi gizi buruk (malnutrisi).
- Penggunaan obat steroid jangka panjang.
- Bepergian ke daerah endemis campak tanpa kekebalan.
- Hilangnya antibodi pasif (pada anak-anak yang imunisasinya sudah lama).
- Kekurangan vitamin A.
Anak-anak dengan gizi buruk, status imun yang rendah, ibu hamil, dan anak-anak yang kekurangan vitamin A memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami campak yang berat.