Meskipun penelitian masih dalam tahap awal, temuan terbaru mengindikasikan adanya peningkatan risiko kanker usus pada pelari ultramaraton. Pesan penting yang bisa diambil adalah jangan pernah mengabaikan sinyal yang diberikan oleh tubuh.
Perdarahan pada tinja, perubahan kebiasaan buang air besar, sakit perut yang tidak jelas penyebabnya, atau anemia akibat kekurangan zat besi bukanlah sekadar "efek samping" dari aktivitas lari. Seringkali, dalam komunitas pelari, keluhan pencernaan dianggap hal yang wajar, sehingga tanda-tanda bahaya terlewatkan begitu saja. Para ahli onkologi menekankan pentingnya skrining usus bagi pelari muda yang mengalami perdarahan setelah lari jarak jauh.
Studi ini juga mengingatkan kita pada perbedaan antara olahraga sebagai sarana pengobatan dan olahraga sebagai tantangan ekstrem. Aktivitas fisik rutin dengan intensitas sedang hingga berat terbukti paling efektif untuk mencegah kanker dan meningkatkan kesehatan secara umum, dibandingkan dengan aktivitas ketahanan ultra yang berulang-ulang.
Olahraga terstruktur setelah pengobatan kanker usus ternyata meningkatkan kualitas hidup jangka panjang pasien. Ini menegaskan bahwa aktivitas fisik tetap menjadi salah satu "obat" terbaik dan termurah untuk pencegahan kanker.
Temuan tentang pelari ultramaraton ini bukan berarti harus berhenti berlari. Manfaat olahraga tetap bisa dinikmati, asalkan tetap waspada terhadap sinyal tubuh. Jika penelitian selanjutnya mengonfirmasi hubungan ini, panduan olahraga mungkin akan berubah, misalnya dengan menganjurkan pelari ultramaraton untuk menjalani kolonoskopi lebih awal, sebelum usia 45 tahun.
Saran lain yang mungkin muncul adalah mengenai cara latihan, termasuk mengatur hidrasi dengan baik, menghindari penggunaan obat antiinflamasi tanpa resep dokter, memperhatikan nutrisi, dan memastikan waktu pemulihan yang cukup.
Saat ini, pesan yang paling bijak adalah menjaga keseimbangan. Olahraga memberikan manfaat yang besar, tetapi tubuh juga perlu didengarkan. Perhatikan gejala seperti perdarahan, dan jangan langsung menganggapnya sebagai "efek lari jauh". Diskusikan faktor risiko pribadi dan riwayat keluarga dengan dokter untuk mendapatkan saran yang tepat.