Di Kuantan Singingi, Riau, kesedihan dan kebahagiaan menyatu dalam Festival Pacu Jalur. Bagi masyarakat Kuansing, pacu jalur bukan sekadar adu kecepatan perahu. Ia adalah cerminan identitas, harga diri, dan kebersamaan.
Bayangkan tiga ibu duduk di depan televisi, mata mereka tak lepas dari layar yang menayangkan langsung Festival Pacu Jalur. Walaupun jarak memisahkan, semangat mereka menyala-nyala. Saat jalur kebanggaan mereka kalah, kekecewaan mendalam terpancar. Air mata mengalir, bukan hanya karena kekalahan, tetapi karena "anak" mereka, jalur yang dirawat dan dibimbing, belum berhasil meraih kemenangan.
Video yang viral itu menjadi bukti nyata, pacu jalur adalah urat nadi kehidupan masyarakat Kuansing. Hubungan antara masyarakat dan jalur bagaikan orang tua dan anak. Jalur lahir dari gotong royong, dipahat dengan cinta, dan dilatih dengan penuh dedikasi.
Festival Pacu Jalur kini mendunia. Penari muda, Rayyan Arkhan Dikha, memukau dunia dengan tarian togak luan melalui format aura farming. Bahkan, rapper asal Amerika Serikat, Melly Mike, didaulat sebagai Duta Pacu Jalur Dunia.
Melly Mike mengungkapkan keharuannya. Ia merasakan kehangatan dan cinta yang tulus dari masyarakat Kuansing. Baginya, pacu jalur bukan sekadar pesta atau kompetisi, tetapi simbol kebersamaan, warisan budaya, dan martabat.
Setelah lima hari perayaan, senyum kembali menghiasi wajah ibu-ibu yang sempat menangis. Jalur mereka mungkin kalah, tetapi budaya mereka menang. Jalur bukan hanya kayu panjang di atas Sungai Kuantan, ia adalah "anak" yang kini dikenal dunia.