Rahasia di Balik Jarak Jauh Kotoran Penguin: Studi Ungkap Kekuatan Tak Terduga

Jakarta – Siapa sangka, penguin, burung yang dikenal lucu dan menggemaskan, ternyata memiliki kemampuan unik: melempar kotoran dengan jarak yang mencengangkan. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penguin mampu melontarkan kotorannya hingga hampir dua kali lipat panjang tubuhnya sendiri!

Para ilmuwan tertarik untuk meneliti bagaimana penguin, dengan rektum yang relatif kecil, dapat menghasilkan kekuatan sedemikian rupa untuk melontarkan kotoran sejauh itu. Penelitian ini menggali lebih dalam tentang tekanan yang dihasilkan dan seberapa jauh kotoran tersebut dapat melesat.

Studi sebelumnya, lebih dari satu dekade lalu, meneliti tekanan yang dibutuhkan penguin Chinstrap dan Adelie untuk mengeluarkan kotoran secara horizontal, yang dianggap sebagai arah buang air besar yang paling umum.

Namun, studi terbaru yang dipublikasikan di arXiv, menganalisis lintasan feses penguin Humboldt (Spheniscus humboldti) yang berbeda. Penguin jenis ini sering buang air besar dalam bentuk busur menurun, menjauhi sarang mereka yang berada di dataran tinggi.

Penelitian ini memperbarui temuan sebelumnya dengan menghitung ulang tekanan internal di usus dan rektum penguin, mengoreksi viskositas kotoran, dan memperhitungkan hambatan udara. Hasilnya menunjukkan bahwa gaya yang dihasilkan bahkan lebih ekstrem dari perkiraan awal.

Tekanan di dalam rektum penguin saat buang air besar mencapai 28,2 kPa, sekitar 1,4 kali lipat dari perkiraan studi di tahun 2003. "Saya terkejut dengan tekanan rektal penguin yang sangat kuat," ujar Hiroyuki Tajima, salah satu peneliti.

Meskipun penguin Humboldt hanya setinggi 71 cm, mereka mampu menghasilkan energi pendorong tinja yang cukup untuk melontarkan "bom" tinja dengan kecepatan hampir 8 km/jam, dan mendarat hingga jarak 134 cm. Ini setara dengan manusia dewasa yang menembakkan tinja mereka hingga jarak lebih dari 3 meter.

Studi ini juga menyoroti bahwa penguin mengeluarkan feses dengan lintasan melengkung ke atas sebelum akhirnya jatuh ke bawah, sebuah pengamatan baru yang belum pernah tercatat sebelumnya pada penguin Adélie.

Para ilmuwan menjelaskan bahwa burung pemakan daging atau ikan biasanya buang air besar dengan lebih kuat dibandingkan burung pemakan biji-bijian. Hal ini mungkin disebabkan karena kotoran mereka mengandung asam urat yang lebih tinggi dan berpotensi menyebabkan iritasi.

Meskipun kemampuan melontarkan kotoran membantu penguin menjaga sarang tetap bersih, tekanan tinggi yang dihasilkan juga menimbulkan risiko bagi para pengasuh penguin di kebun binatang dan akuarium.

Oleh karena itu, temuan ini juga memiliki sisi praktis, yaitu membantu para ahli satwa liar yang merawat penguin untuk membangun "zona aman" agar mereka dapat terhindar dari jangkauan kotoran penguin saat burung-burung tersebut buang air besar.

Scroll to Top