Harga emas mengalami lonjakan signifikan, menembus level US$3.400 per troy ons dan mencapai titik tertinggi dalam satu minggu terakhir. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar AS di tengah kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan hari Kamis (28 Agustus 2025), harga emas dunia melonjak 0,58% dan mencapai US$3.416,69 per troy ons. Namun, pada perdagangan Jumat (29 Agustus 2025) hingga pukul 06.35 WIB, harga emas sedikit terkoreksi 0,04% menjadi US$3.415,2 per troy ons di pasar spot.
Pelemahan dolar AS, tercermin dari penurunan indeks dolar AS/DXY sebesar 0,43% ke level 97,81, membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.
Kekhawatiran mengenai independensi The Fed, dipicu oleh tekanan dari pemerintahan Trump, juga menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas. Pasar khawatir bahwa Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dapat memangkas suku bunga lebih agresif dan mempertahankannya lebih lama. Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas lebih dari 87% untuk penurunan suku bunga sebesar 0,25% pada pertemuan The Fed bulan September.
Investor kini fokus pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis hari Jumat, yang menjadi acuan penting inflasi bagi The Fed. Emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, cenderung menguat dalam lingkungan suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi.
Konflik hukum terkait independensi The Fed, yang dipicu oleh gugatan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook, semakin menambah sentimen positif bagi emas.
Beberapa analis memprediksi bahwa harga emas akan terus menguat dalam jangka pendek. Bahkan, ada yang memperkirakan harga emas dapat mencapai US$3.700 per troy ons pada akhir tahun ini.