Klub kebanggaan Kota Bandung, Persib Bandung, membuat gebrakan di bursa transfer musim ini. Mereka berhasil mendatangkan gelandang Timnas Indonesia, Thom Haye, yang dijuluki ‘Professor’. Kabarnya, pemain tengah ini menerima gaji fantastis, mencapai Rp 750 juta per bulan!
Thom Haye menandatangani kontrak selama dua musim bersama Persib Bandung dan akan segera meramaikan kompetisi Indonesia Super League. Sebelum berlabuh di Indonesia, Haye malang melintang di kasta tertinggi Liga Belanda, Eredivisie, dengan total 236 penampilan bersama lima tim berbeda.
"Thom Haye akan segera bergabung dengan tim untuk persiapan menghadapi kompetisi Super League dan AFC Champions League 2," ujar perwakilan manajemen Persib.
Pihak klub berharap kehadiran Thom Haye dapat memberikan dampak positif bagi tim. Ia diharapkan menjadi simbol ambisi Persib untuk bersaing di level domestik dan Asia.
"Persib yakin kehadiran Thom Haye akan menjadi babak baru dalam kariernya, serta memberikan energi positif bagi tim dan seluruh penggemar Persib," lanjut perwakilan klub.
Selain Thom Haye, Persib Bandung juga mengincar pemain diaspora lainnya, Eliano Reijnders, yang berposisi sebagai sayap kanan. Eliano juga diminati oleh Bali United.
Jika Eliano memilih Persib, ia akan menjadi pemain termahal kedua di klub setelah Thom Haye. Nilai pasar Eliano saat ini mencapai Rp 10,43 miliar. Pertanyaannya, apakah kedatangan pemain berlabel diaspora Eropa dan Timnas ini akan meningkatkan performa liga dan klub Indonesia di level Asia, atau hanya sekadar strategi pemasaran?
Di sisi lain, terjadi aksi demo di berbagai daerah yang menelan korban jiwa. Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan meninggal dunia setelah tertabrak kendaraan taktis (rantis) Brimob saat pengamanan demo di Jakarta. Aksi solidaritas dari komunitas ojol pun berdatangan di acara pemakamannya.
Selain itu, terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Sumenep, yang menyebabkan 20 anak meninggal dunia dari Februari hingga Agustus 2025. Pemerintah menargetkan imunisasi untuk 70 ribu anak di wilayah tersebut dalam waktu dua pekan, mengingat penularan campak yang jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19.