Penembakan Massal di Gereja Minneapolis: Dua Anak Tewas, Pelaku Tinggalkan Pesan Mengerikan

Sebuah tragedi mengguncang Gereja Katolik Annunciation di Minneapolis, Amerika Serikat, pada hari Rabu ketika Robin Westman (23) melakukan penembakan massal yang merenggut nyawa dua anak dan melukai 17 lainnya. Insiden mengerikan ini terjadi saat berlangsungnya Misa Katolik.

Westman, yang menggunakan tiga jenis senjata api dalam aksinya, ditemukan tewas di area parkir. Pihak berwenang meyakini kematiannya disebabkan oleh luka tembak yang dilakukan sendiri.

Identitas Westman terungkap setelah catatan pengadilan menunjukkan perubahan namanya dari Robert pada tahun 2020, mengindikasikan identifikasi dirinya sebagai seorang perempuan.

Sebelum kejadian, Westman sempat mengunggah video ke kanal YouTube pribadinya, "Robin W," yang kemudian dihapus oleh administrator situs. Video tersebut memperlihatkan tumpukan senjata, amunisi, dan magasin peluru. Pada magasin-magasin tersebut tertulis pesan-pesan bernada kebencian seperti "Bunuh Donald Trump," "Bunuh Trump sekarang," "Israel harus jatuh," "Bakar Israel," serta tulisan-tulisan provokatif lainnya seperti "Nuklir India," "Di mana Tuhanmu?" dan "Untuk anak-anak."

Menteri Dalam Negeri AS, Kristi Noem, mengonfirmasi keaslian video tersebut dan mengungkapkan kengeriannya atas pesan-pesan yang ditinggalkan oleh pelaku.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa Westman membeli senjata-senjata tersebut secara legal dan tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Pihak berwenang meyakini bahwa ia bertindak seorang diri.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, Presiden Donald Trump memerintahkan pengibaran bendera AS setengah tiang di seluruh negeri.

Tragisnya, penembakan di Gereja Katolik Annunciation ini menjadi insiden penembakan ke-146 yang terjadi di AS sejak awal tahun.

Sebelum melakukan aksinya, Westman juga meninggalkan surat terakhir yang berisi permintaan maaf kepada keluarganya. Dalam surat tersebut, ia mengungkapkan rasa penyesalannya atas dampak tindakannya terhadap kehidupan orang-orang terdekatnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada orang tuanya atas didikan yang baik, namun menyalahkan dunia karena membuatnya "membenci hidup."

Westman juga meminta saudara-saudarinya untuk melanjutkan hidup dan melupakannya, serta menyarankan mereka untuk mengubah nama jika perlu. Ia berharap teman-temannya dapat mengenangnya dengan cara yang baik, namun mengakui bahwa "dunia ini terlalu banyak penderitaan yang harus ia hadapi."

Scroll to Top