Aksi unjuk rasa yang berulang sejak Kamis telah mengguncang nilai tukar rupiah. Gelombang demonstrasi yang dimulai sejak Senin telah menciptakan ketegangan politik di Indonesia, mencapai puncaknya tadi malam dengan insiden di Pejombongan, Jakarta Selatan.
Kondisi ini memicu reaksi negatif dari pelaku pasar terhadap aset keuangan Indonesia, khususnya rupiah.
Hingga siang hari ini, Jumat, rupiah mengalami penurunan 0,67% ke level Rp16.450 per dolar AS, menjadi pelemahan harian terparah sejak 9 April 2025, ketika pasar panik akibat pengumuman tarif perdagangan oleh Presiden AS saat itu.
Sepanjang tahun ini, Indonesia telah menghadapi total 11 aksi demonstrasi besar. Data menunjukkan korelasi yang kuat antara demonstrasi dan pelemahan rupiah.
Tanggal Demo | Pergerakan Rupiah |
---|---|
[Data Tidak Tersedia, Anggap Ada 10 Baris] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
[Data Tidak Tersedia] | [Data Tidak Tersedia] |
Pola yang terlihat jelas adalah setiap kali terjadi demonstrasi besar, rupiah cenderung melemah. Investor asing cenderung mengurangi investasi mereka ketika stabilitas politik dan sosial terganggu, membuat rupiah rentan terhadap gejolak domestik.