Sekolah di Jerman Mulai Batasi Penggunaan Ponsel, Apa Dampaknya?

Fenomena penggunaan ponsel di kalangan pelajar Jerman memicu perdebatan sengit. Beberapa sekolah mengambil langkah berani dengan menerapkan larangan, sementara yang lain memilih pendekatan literasi digital. Bagaimana dampaknya terhadap siswa, guru, dan orang tua?

Larangan Ponsel: Antara Pro dan Kontra

Dalton Gymnasium di Alsdorf menjadi sorotan setelah melarang penggunaan ponsel selama jam sekolah. Siswa harus menyimpan ponsel mereka di tas dari awal hingga akhir pelajaran. Hasilnya cukup mengejutkan. Klara Ptak, ketua OSIS, mengakui awalnya banyak siswa mempertanyakan kebijakan ini, namun lama-kelamaan mereka menyadari manfaatnya.

"Anak-anak yang dulu sibuk dengan ponsel kini bermain sepak bola, bulu tangkis, atau board game bersama," ujar Ptak.

Kepala Sekolah Dalton Gymnasium, Martin Wüller, mengungkapkan bahwa 90% guru mendukung larangan tersebut karena melihat peningkatan interaksi sosial dan konsentrasi siswa. Mayoritas siswa muda juga merasakan manfaatnya, meskipun siswa kelas atas cenderung skeptis. Yang menarik, 85% orang tua mendukung kebijakan ini dan melaporkan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih mandiri dan komunikasi di rumah meningkat.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan larangan total. Konferensi OSIS Jerman lebih memilih penguatan literasi digital di sekolah. Sementara itu, survei menunjukkan bahwa orang tua merasa tertekan dengan konsumsi media anak-anak mereka.

Solingen: Jauhi Media Sosial untuk Anak Kelas 5

Di Solingen, sebuah proyek unik diluncurkan: semua siswa kelas 5 sepakat untuk berhenti menggunakan media sosial, bahkan di rumah. Gagasan ini muncul dari Burkhard Brörken, seorang pejabat pendidikan.

"Kami memulai kemitraan pendidikan unik antara sekolah, orang tua, dan anak-anak," jelasnya.

Proyek ini mendapat dukungan luas dari orang tua yang sering mengeluhkan pola penggunaan media sosial yang berisiko. Mereka merasa tekanan sosial membuat larangan individu sulit diterapkan.

Harapan untuk Generasi yang Lebih Fokus

Proyek di Solingen akan dievaluasi dalam beberapa bulan ke depan. Brörken berharap larangan media sosial ini berhasil mengatasi masalah depresi dan gangguan kecemasan yang semakin sering dialami siswa.

"Fenomena ini sepuluh tahun lalu hampir tidak ada, tapi kini ada di semua sekolah," katanya.

Inisiatif-inisiatif di Alsdorf dan Solingen menunjukkan bahwa sekolah di Jerman serius mencari solusi untuk mengatasi dampak negatif penggunaan ponsel dan media sosial pada generasi muda.

Scroll to Top