Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, melayangkan tuduhan keras kepada India terkait sikapnya yang terus membeli minyak dari Rusia. Menurut Navarro, India bersikap arogan dengan menolak tuntutan Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan impor minyak tersebut.
Menanggapi hal ini, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah tegas dengan menggandakan tarif impor barang-barang dari India menjadi 50%. Kebijakan ini diberlakukan sebagai upaya untuk menekan New Delhi agar tidak lagi mengimpor minyak dari Rusia.
Kenaikan tarif ini akan berdampak signifikan, mencakup lebih dari separuh total ekspor India ke AS, yang merupakan pasar terbesarnya. Meskipun demikian, Perdana Menteri India Narendra Modi menegaskan komitmennya terhadap kemandirian dan menyatakan bahwa India siap menghadapi konsekuensi tarif tersebut.
Navarro mengungkapkan kekecewaannya dalam sebuah wawancara, "Saya bingung mengapa India begitu arogan. Mereka berdalih ini adalah kedaulatan mereka, dan mereka bebas membeli minyak dari siapa pun. Ini adalah negara demokrasi yang matang dengan orang-orang cerdas, tetapi mereka dengan berani mengatakan tidak akan berhenti membeli minyak Rusia."
Navarro juga menekankan bahwa India sebenarnya bisa mendapatkan diskon 25% jika bersedia menghentikan pembelian minyak Rusia. Ia berpendapat bahwa para pembayar pajak AS pada akhirnya menanggung beban akibat pembelian minyak Rusia oleh India, karena hal itu mendukung keberhasilan Moskow di medan perang.
Lebih lanjut, Navarro menyebut konflik di Ukraina sebagai "perang Modi," dengan menyatakan bahwa jalan menuju perdamaian sebagiannya berada di tangan New Delhi. Sebelumnya, ia juga menyebut India sebagai "laundry untuk Kremlin."
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar menegaskan bahwa negara-negara lain membeli produk minyak bumi olahan dari India atas kemauan mereka sendiri. "Tidak ada paksaan. Eropa dan Amerika juga membeli. Jadi, jika Anda tidak suka, jangan membelinya," ujarnya.
Meskipun mendapat tekanan, New Delhi justru berencana meningkatkan impor minyak Rusia pada bulan berikutnya, menurut laporan dari Reuters yang mengutip sumber-sumber industri.