Harga emas dunia menunjukkan tren positif yang signifikan, didorong oleh sinyal pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini menantikan pertemuan The Fed pada September 2025, yang diperkirakan akan memberikan arah yang lebih jelas terkait kebijakan suku bunga.
Investor emas sangat memperhatikan setiap indikasi perubahan suku bunga, mengingat dampaknya langsung terhadap pergerakan harga logam mulia ini. Dengan probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin yang masih terbuka, keputusan The Fed berpotensi memicu volatilitas di pasar emas.
Pada hari Kamis (28/8/2025), harga emas global melonjak 0,58% mencapai US$3.416,69 per troy ons, berhasil kembali ke level psikologis US$3.400 per troy ons dan mencapai puncak mingguan. Meskipun pada hari Jumat (29/8/2025), harga emas mengalami koreksi tipis sebesar 0,2% menjadi US$3.409 per troy ons pada pukul 19.17 WIB, sentimen pasar secara keseluruhan tetap positif.
Pertemuan September mendatang menjadi krusial karena akan disertai dengan publikasi Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP), yang berisi pembaruan perkiraan pertumbuhan, inflasi, dan tingkat pengangguran dari para pembuat kebijakan.
Data ekonomi penting seperti laporan ketenagakerjaan Agustus dan indeks harga pengeluaran konsumen AS (PCE) akan memainkan peran penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melambat, peluang penurunan suku bunga akan semakin terbuka. Skenario ini berpotensi mendorong harga emas menuju US$3.500 per troy ons, terutama jika pemotongan suku bunga lebih agresif, misalnya sebesar 50 basis poin.
Data Pengeluaran Konsumsi Pribadi AS, yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, akan dirilis pada malam Jumat. Data ini diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.
Selain itu, pelemahan dolar AS yang seringkali menyertai pelonggaran kebijakan moneter akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven terhadap devaluasi mata uang.
Secara historis, emas selalu menunjukkan kinerja yang baik dalam lingkungan suku bunga rendah. Karakteristiknya yang tidak memberikan imbal hasil justru menjadi daya tarik ketika instrumen berbunga kehilangan pesonanya.
Saat ini, harga emas diperdagangkan di sekitar US$3.390 per troy ons, dan beberapa analis memperkirakan potensi kenaikan hingga US$3.700 sebelum akhir tahun. Faktor pendorong utamanya meliputi pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, terutama dari negara berkembang, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Penurunan suku bunga The Fed akan memberikan dorongan tambahan. Pemangkasan sebesar 25 basis poin saja sudah cukup untuk membawa suku bunga riil ke zona negatif, yang secara historis menjadi katalis utama penguatan harga emas. Sentimen ini diperkuat oleh kebijakan perdagangan AS, termasuk penerapan tarif tinggi terhadap logam mulia, yang menciptakan ketidakpastian jangka pendek dan mendorong investor mencari perlindungan melalui emas.
Disclaimer: Artikel ini adalah analisis pasar emas dan bukan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual produk investasi terkait. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.