Bagaimana leluhur kita beralih dari merangkak menjadi berdiri tegak dengan dua kaki? Sebuah riset mendalam membuka tabir perubahan fundamental pada pinggul manusia yang memungkinkan kita berjalan dengan stabil dan efisien. Studi ini mengungkap dua transformasi krusial pada tahap awal perkembangan embrio yang membentuk tulang panggul, menyesuaikannya dengan kebutuhan berjalan tegak.
Dua Kunci Utama: Rotasi dan Penundaan Pengerasan Tulang
1. Putaran Lempeng Pertumbuhan Ilium
Awalnya, pertumbuhan tulang panggul manusia serupa dengan primata lainnya. Namun, di hari ke-53 perkembangan embrio, lempeng pertumbuhan iliac mengalami rotasi sebesar 90 derajat. Perubahan ini mengarahkan pertumbuhan tulang ke samping, bukan hanya dari kepala ke ekor.
Akibatnya, ilium yang awalnya panjang dan sempit bertransformasi menjadi pendek dan lebar, membentuk panggul menyerupai mangkuk yang ideal untuk menopang tubuh saat berjalan tegak.
2. Menunda Proses Pengerasan Tulang (Ossifikasi)
Perubahan kedua terkait dengan waktu pengerasan tulang. Umumnya, tulang mengeras dari tengah ke luar. Akan tetapi, pada manusia, pengerasan dimulai dari bagian belakang dekat sakrum dan menyebar ke tepi luar, sementara bagian dalam tetap berupa tulang rawan hingga sekitar 16 minggu.
Penundaan ini memberikan waktu bagi bentuk panggul untuk tetap terjaga sementara otot dan ligamen menempel pada posisinya. Bukti histologis dengan jelas menunjukkan rotasi 90 derajat ini.
Gen Pengatur Evolusi Pinggul
Penelitian ini mengidentifikasi tiga gen utama yang memainkan peran sentral dalam proses evolusi pinggul:
- SOX9: Mutasi pada gen ini dapat menyebabkan campomelic dysplasia, yang ditandai dengan panggul sempit.
- PTH1R: Varian gen ini memengaruhi sinyal pertumbuhan tulang dan berperan dalam mengatur rotasi lempeng pertumbuhan.
- RUNX2: Gen ini berhubungan dengan waktu dan lokasi pembentukan sel tulang, terutama dalam proses pengerasan pinggul.
Kombinasi aktivitas gen-gen ini menciptakan urutan dua tahap: pelebaran terlebih dahulu, diikuti dengan penundaan pengerasan – sebuah formula penting untuk panggul manusia yang mendukung bipedalisme.
Dampak Evolusi: Dari Berjalan hingga Melahirkan
Perubahan bentuk panggul tidak hanya memengaruhi cara berjalan, tetapi juga proses persalinan.
- Berjalan Tegak: Ilia yang melebar memposisikan otot gluteus medius dan minimus sehingga mampu menstabilkan tubuh saat satu kaki menapak.
- Melahirkan: Evolusi panggul juga berdampak pada bentuk kanal lahir, menyeimbangkan kebutuhan antara efisiensi berjalan dan kemampuan melahirkan.
Selain itu, ligamentum iliofemorale dan otot rectus femoris yang melekat di bagian depan ilium juga berperan menjaga kestabilan pinggul saat berdiri dengan satu kaki.
Evolusi Sejak Dini
Penelitian ini melibatkan ratusan sampel embrio dan janin dari manusia dan primata. Hasilnya memperlihatkan bahwa pola perkembangan panggul manusia sudah berbeda sejak awal, setelah nenek moyang kita berpisah dari garis keturunan kera Afrika. Sejak saat itu, semua fosil hominid menunjukkan pertumbuhan panggul yang berbeda dari primata manapun sebelumnya.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Meskipun studi ini memberikan banyak jawaban, masih ada pertanyaan yang perlu dijawab:
- Bagaimana kontraksi otot awal memengaruhi arah pertumbuhan panggul?
- Seberapa besar variasi pola perkembangan panggul antar populasi manusia modern?
- Bagaimana perubahan DNA pengatur gen ini terjadi sepanjang evolusi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membuka wawasan baru tentang sejarah evolusi manusia dan mengapa tubuh kita berbentuk seperti sekarang. Perjalanan menuju bipedalisme bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perubahan biologis yang presisi dan terkoordinasi sejak tahap paling awal kehidupan.