Menteri Pertanian (Mentan) angkat bicara mengenai paradoks yang terjadi di pasar beras saat ini. Meskipun cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai rekor tertinggi, yakni 3,9 juta ton di gudang Bulog, harga beras justru melonjak. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di benak masyarakat.
Mentan menduga adanya permainan dalam rantai pasok beras. Pemerintah pun berupaya keras menekan harga dengan menggelar operasi pasar murah.
Anomali serupa pernah terjadi pada minyak goreng. Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar dunia, justru mengalami kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng beberapa tahun lalu.
"Kenapa stok banyak, harga naik? Ini anomali," tegas Mentan. Pemerintah kini menyiapkan 1,3 juta ton beras untuk operasi pasar besar-besaran.
Pemerintah terus berbenah dalam tata kelola pangan, khususnya beras. Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan 17 instruksi presiden (inpres) terkait pangan.
Dalam delapan bulan terakhir, pemerintah berhasil mengatasi masalah pupuk yang sempat menjadi polemik. Pembangunan dan perbaikan irigasi juga menjadi fokus utama. Selain itu, optimalisasi lahan dan pencetakan sawah terus digenjot untuk memperkuat stok beras nasional.
Untuk menekan harga beras, pemerintah telah menyalurkan bantuan pangan beras sebanyak 360 ribu ton kepada 18,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Selain itu, 1,3 juta ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga digelontorkan ke pasar.
Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa intervensi pasar telah mulai menunjukkan hasil. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras mulai berkurang, dari 233 menjadi 200 daerah.
"Gerakan stabilisasi harga pangan dengan operasi pasar dan memanfaatkan stok Bulog adalah langkah yang tepat," ujarnya.
Data dari Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa harga beras masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Harga beras medium rata-rata Rp 13.865/kg, sedangkan beras premium Rp 15.985/kg. HET untuk beras medium adalah Rp 13.500/kg dan beras premium Rp 14.900/kg.