ITB: Pelopor yang Menghubungkan Indonesia ke Dunia Maya

Sejarah internet di Indonesia erat kaitannya dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Di masa awal perkembangannya, jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai "paguyuban network," mencerminkan semangat kolaborasi dan gotong royong antar pengguna.

Bukti peran penting ITB dalam evolusi internet Tanah Air dapat ditemukan dalam artikel Majalah Elektron Himpunan Mahasiswa Elektro ITB tahun 1989. Kampus ini bahkan menjadi yang terdepan dalam meluncurkan jaringan IP yang terhubung ke jaringan internet global.

Bagaimana ITB menjadi pionir dalam menghubungkan Indonesia ke dunia maya? Mari kita telusuri jejak sejarahnya.

Jejak Langkah ITB dalam Membangun Internet Indonesia

Pada pertengahan 1980-an, mahasiswa ITB aktif dalam kegiatan radio amatir, khususnya Amateur Radio Club (ARC) ITB. Mereka belajar dari para senior, termasuk Robby Soebiakto, seorang tokoh penting di kalangan radio amatir yang menghubungkan berbagai server Bulletin Board System (BBS) di seluruh dunia.

Inovasi Robby Soebiakto diadopsi oleh BPPT, LAPAN, UI, dan ITB, menjadi fondasi jaringan PaguyubanNet pada tahun 1992-1994.

Kedatangan Suryono Adisoemarta, seorang ahli jaringan dari ITB yang baru kembali dari Austin, di akhir tahun 1992 disambut dengan antusias. Bersama anggota ARC ITB seperti Basuki Suhardiman, Aulia K. Arief, dan Arman Hazairin, Suryono mengembangkan gateway radio paket di ITB. Dengan modal PC 286 bekas, ITB menjadi lembaga yang berani berkiprah di jaringan PaguyubanNet meski dengan sumber daya terbatas.

Lembaga lain seperti UI, BPPT, dan LAPAN memiliki fasilitas yang lebih baik. Bahkan, modem radio paket Terminal Node Controller (TNC) di ITB merupakan pinjaman dari Muhammad Ihsan LAPAN.

Namun, ITB terus berkembang. Pada tahun 1995, mereka memperoleh sambungan leased line 14.4 Kbps ke RISTI Telkom, bagian dari IPTEKNET yang diberikan secara cuma-cuma.

September 1996 menjadi momen penting bagi ITB. Keterlibatan kampus dalam jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (A13) memberikan bandwidth 1.5 Mbps ke Jepang. Pada momen inilah, ITB untuk pertama kalinya meluncurkan jaringan IP-nya ke internet global.

Jaringan tersebut terus diperluas dengan sambungan ke TelkomNet dan IIX sebesar 2 Mbps, menjadikan ITB sebagai salah satu pilar penting dalam sejarah perkembangan internet Indonesia.

Scroll to Top