Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam sidang parlemen luar biasa, kembali menegaskan langkah-langkah konkret yang diambil Turki terhadap Israel, terutama terkait agresi yang berlanjut di Gaza. Langkah-langkah ini mencakup penghentian total hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara.
"Kami telah menghentikan seluruh aktivitas perdagangan dengan Israel, menutup akses pelabuhan untuk kapal-kapal berbendera Israel, dan melarang kapal-kapal Turki berlabuh di pelabuhan Israel," tegas Fidan. Ia menambahkan bahwa Turki menjadi satu-satunya negara yang mengambil tindakan penghentian perdagangan secara komprehensif.
Lebih lanjut, Fidan menekankan bahwa kapal-kapal yang diduga membawa persenjataan ke Israel dilarang memasuki pelabuhan Turki maupun melintasi wilayah udara Turki.
Fidan menegaskan bahwa tindakan Israel di Gaza, yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir, merupakan sebuah genosida yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dengan lebih dari 63.000 warga Palestina di Gaza kehilangan nyawa sejak Oktober 2023, Fidan menyatakan bahwa "kekejaman yang terjadi di Gaza telah menjadi catatan kelam dalam sejarah umat manusia."
Turki menolak segala bentuk usulan yang mengarah pada pengusiran warga Palestina dari Gaza, dan menganggap rencana tersebut ilegal. Fidan menggambarkan perlawanan Palestina sebagai perjuangan yang akan mengubah sejarah, menjadi simbol bagi kaum tertindas, dan mengguncang tatanan dunia yang sudah usang.
Fidan juga memperingatkan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut berpotensi menghancurkan seluruh kawasan. "Serangan membabi buta Israel terhadap Gaza, Lebanon, Yaman, Suriah, dan Iran adalah bukti nyata dari mentalitas negara teroris yang menentang tatanan internasional," ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan terkini menunjukkan keinginan Israel untuk menduduki seluruh wilayah Palestina. Tindakan provokatif para menteri dan pemukim ekstremis yang mencoba memasuki Masjid Al-Aqsa di Yerusalem semakin memperburuk ketegangan.
Turki, bersama dengan Qatar dan Mesir, terus berupaya mencari solusi untuk meredakan situasi tersebut.
Ketua Parlemen Turki, Numan Kurtulmus, menyerukan tindakan nyata terhadap Israel, termasuk penangguhan keanggotaannya dari organisasi internasional seperti PBB, sampai Israel menghentikan "kebijakan genosidanya".
Otoritas pelabuhan Turki dilaporkan telah mewajibkan agen pelayaran untuk memberikan surat jaminan bahwa kapal-kapal yang bersandar tidak terkait dengan Israel dan tidak membawa kargo militer atau berbahaya yang menuju negara tersebut. Instruksi ini disampaikan secara lisan kepada agen pelabuhan tanpa surat edaran resmi.